Pria kelahiran Jakarta, 29 Juni 1994 ini memiliki hobi menulis dan membaca. Selain itu, ia juga memiliki ketertarikan terhadap sepak bola. Rahman Fauzi atau yang kerap disapa dengan Rahman adalah mahasiswa Jurnalistik, Fakultas Ilmu Komunikasi, Universitas Padjadjaran angkatan 2012. Pria berkacamata ini sudah tertarik dengan dunia sepak bola sejak 2002 dan memilih masuk jurnalistik karena ingin menulis tentang sepak bola.

Menurutnya sepak bola adalah permainan terbaik di muka bumi dan bukan sekadar permainan 2 x 45 menit, tetapi di sepak bola lah terjadi peristiwa sosial yang melibatkan elemen masyarakat yang tergabung dalam stadion. Tak hanya itu, menurutnya pula sepak bola sudah menjadi identitas bagi setiap orang. Ada semangat kebanggan daerah dan itu merupakan bagian penting dari banyak umat manusia.

Saking cintanya dengan sepak bola, ketika remaja ia menolak keras untuk dimasukkan ke pesantren oleh orang tuanya. Karena ia memiliki ketakutan tidak bisa menonton pertandingan bola di setiap minggunya dan tidak bisa menonton acara bola seperti One Stop Football. Setelah berusaha keras akhirnya ia dapat membuktikan dirinya mampu diterima di sekolah menengah atas negeri yakni di SMA N 8 Tangerang.

“Sebenarnya saya tidak terlalu suka bermain bola, tetapi saya suka menonton dan mengamati,” ujar Rahman.

Walaupun berlatar belakang dari keluarga yang bergelut di perbankan, tetapi tak membuat ia mengikuti jejak ayah dan kedua saudaranya. Justru ia memilih masuk Jurnalistik karena ingin membuktikan bahwa ia mampu berhasil di bidang yang ia pilih. Pencapaiannya itu ia buktikan dengan memenangkan juara pertama Pekan Komunikai (Pekom) Universitas Indonesia 2016 dalam bidang lomba Journalight.

“Bagi saya juara hanya bonus, karena sebenarnya pengalaman dan interaksi di sana yang paling menyenangkan,” katanya.

Perjalanan untuk menjadi juara pertama di bidang Journalight Pekom UI tersebut tentunya tidaklah mudah. Tahun sebelumnya ia sempat gagal karena disibukkan dengan setumpuk tugas kuliah. Namun, karena merasa ada waktu luang setelah magang di PJTV akhirnya ia berminat mengikuti lomba tersebut sekali lagi.

Ia pun semakin bersemangat setelah mengetahui sang idolanya yakni Pangeran Siahaan dan Zen R.S. menjadi pengisi materi seminar di sana. Banyak ide muncul untuk lomba tersebut, seperti mengangkat topik tentang sosok Muhammad Toha dan mengumpulkan tugas kuliah. Namun, pilihannya jatuh pada musik dengan mengangkat topik mengenai netlabel yang gratis. Walaupun ia baru mempelajari musik pada 2015, tetapi ia yakin ia mampu karena ketika mengerjakan tugas pun ia sering mendengarkan musik dari netlabel. Bahkan, mendengarkan musik sudah menjadi hobinya khususnya di aliran indie pop punk seperti Barefood dan Neck Deep.

“Tantangan menulis tentang musik adalah belajar dari nol karena saya tidak terlalu memiliki ketertarikan pada musik. Kemudian, tidak seperti sepak bola yang sudah menjadi ketertarikan dari awal, dalam menulis ini diperlukan riset yang lama,” ujar Rahman.

Ia pun menyayangkan ketika itu tidak banyak mahasiswa jurnalistik yang mengikuti kompetisi tersebut, padahal banyak peluang untuk menembus sana. Selain menjadi juara Journalight Pekom UI 2016, Rahman pun pernah menjadi juara 2 blog Kompasiana dan Juara 1 Torabika Campus Cup.

Anak bungsu dari tiga bersaudara ini selain aktif kuliah, ia juga pernah aktif di beberapa organisasi seperti presma dJatinangor sebagai redaktur cetak dan Himpunan Mahasiswa Jurnalistik (HMJ). Walaupun kini sedang disibukan dengan skripsinya, Rahman tetap aktif menulis dengan menjadi kontributor di Tirto.id dan di beberapa media lain seperti Gabuts dan Pandit Football. Skripsi yang sedang dikerjakan adalah studi kasus mengenai tayangan Indonesia Lawyers Club yang menampilkan anak kecil korban pelecehan di bawah umur pada 13 Oktober 2015.

“Alasan mengangkat topik ini sederhana, karena ketika itu deadline seminar sudah dekat dan kasus yang sedang ramai diberitakan mengenai ILC tersebut. Jadilah mengambil topik itu dan tidak disangka mendapat nilai A. Sebenarnya tidak minat di bidang itu, tetapi karena sudah terlanjur maka dilanjutkan. Saya juga ingin keluar dari zona nyaman,” kata Rahman.

Sepanjang karier menulisnya, Rahman pernah berkontribusi menulis tentang korupsi dan diterbitkan oleh KPK pada 2011 bersama 39 tulisan lainnya. Selain itu, ia juga pernah menulis di tabloid bola saat kelas dua sekolah menengah atas. Citanya-citanya yang belum terwujud adalah menulis tentang sejarah klub favoritnya yakni Persita Tangerang dan membuat web atau zine mengenai bola.

Pria yang memiliki motto hidup “berikan yang terbaik di setiap kesempatan” ini juga berharap dia akan menjadi penulis tetap di Pandit Football dan Tirto.id.

Share this: