Jurnalisme gaya hidup memang berbeda, karena selain memberikan informasi tentang gaya hidup, peliputan jenis ini acapkali mendorong si jurnalis bersangkutan untuk menyelami apa yang seharusnya hanya menjadi objek liputan dalam kerja jurnalistiknya. Jurnalisme gaya hidup tak hanya menjadi jurnalisme pasif dengan hanya memaparkan 5W + 1H, namun juga menjadi jurnalisme rasa, karena selalu berbicara soal konteks manusia.
Sekelumit hal terkait jurnalisme gaya hidup ini dibahas dengan hangat dalam sesi tutorial menganai gaya hidup oleh dosen tamu Ratna Djuwita, Jumat ( yang sarat pengalaman meliput gaya hidup di berbagai media nasional, termasuk di Harian Umum Pikiran Rakyat. Ratna, alumni Fakultas Publisistik angkatan 1978 ini memaparkan apa yang menjadi daya tarik dari Jurnalisme gaya hidup kepada Mahasiswa semester 5 Prodi Jurnalistik yang tengah mengambil mata kuliah Jurnalisme Spesialisasi.
Jurnalisme gaya hidup sebenarnya tidak pernah berdiri sendiri, melainkan selalu hadir dalam setiap bahasan umum yang hadir di sekeliling kita ujar Ratna, seperti halnya peliputan di rubrik Teknologi, Olahraga, Fashion bahkan Ekonomi, yang bisa menghadirkan angle maupun perspektif berbeda jika didalami melalui sentuhan jurnalisme gaya hidup.
Berbagi aspek dalam Jurnalisme gaya hidup habis dibahas dalam diskusi hangat selama 2 jam ini, seperti halnya gaya hidup si wartawan, dan subjektivitas wartawan yang kadang lebih terasa dalam peliputan gaya hidup. Di akhir pertemuan Ratna berpesan pada Mahasiswa Jurnalistik agar tetap mempertahankan idealismenya meski dalam dunia industri selalu menuntut Jurnalis agar fleksibel dalam mengarungi dunia kerja.