Pemaparan materi perdagangan ilegal satwa liar di pasar burung pada kuliah umum Teknik Investigasi dan Peliputan yang dilaksanakan di Zoom pada (08/03)
Penjualan satwa dilindungi masih banyak ditemukan di sejumlah pasar burung di Indonesia. Hal ini disampaikan oleh Britha Dian, tim advokasi Garda Animalia dalam kuliah umum berjudul Teknik Investigasi dan Pelaporan Berita dalam Peliputan Khusus pada Senin, 08 Maret 2021.
Beberapa pasar burung yang tercatat masih melakukan aktivitas perdagangan satwa dilindungi adalah Pasar Burung Sukahaji di Bandung, Pasar Burung Pramuka di Jakarta Timur, Pasar Burung Jatinegara di Jakarta Timur, Pasar Pal 7 di Banjarmasin, dan Pasar Burung Plered di Cirebon.
“Pasar Burung Sukahaji di Bandung terdata sebanyak 307 satwa liar diperdagangkan, Pasar Burung Pramuka di Jakarta Timur teradata 296 satwa liar diperdagangkan, Pasar Burung Jatinegara Jakarta Timur terdata 223 satwa liar diperdagangkan,” ucap Dian dalam pemaparan materinya.
Jenis satwa yang diperjual-belikan mulai antara lain Tiong Emas, Curik Bali, Jalak Blambangan, Nuri Balaku, Nuri Sayap Hitam, Betet Biasa, Gelatik Jawa, Perkici Pelangi, Alap-alap Sapi, dan Serindit Jawa. Hal ini didapatkan dari hasil investigasi rutin Garda Animalia terhadap 20 pasar burung di Indonesia.
Lebih lanjut, Dian mengungkap masih banyak masyarakat yang memelihara satwa liar dilindungi. Masyarakat tersebut pun datang dari berbagai kalangan.
“Sayangnya di Indonesia pemelihara satwa ilegal itu banyak sekali. Dan memicu rantai perdagangan ilegal, apalagi kalau sekarang bicara teknologi ada Instagram ada Tiktok yang banyak melakukan (unggahan konten) unboxing dan mereka memicu orang jadi tertarik,” papar Dian.
Dian menyebutkan, hasil unggahan tersebut menyebabkan pembelian monyet ekor panjang semakin meningkat.
“Monyet ekor panjang meskipun dia tidak dilindungi tapi trend (menyebabkan) angka kurva (penjualan) tinggi. Dikonfirmasi setelah munculnya banyak konten di Youtube atau Tiktok yang melakukan unboxing. Orang yang awalnya tidak tahu atau tidak mau memelihara satwa liar setelah melihat konten tersebut kemudian tertarik,” lanjutnya.
Selain membahas mengenai aktivitas jual-beli satwa dilindungi, Dian juga memaparkan proses investigasi Garda Animalia. Dimulai dari mencari data dan informasi yang valid dan kredibel, baik lisan dan tertulis. Setelah itu data yang didapat akan diolah menjadi rangkaian fakta yang dapat menjawab 5W+1H. Hasil yang didapatkan merupakan laporan yang bersifat terbatas dan rahasia.
“Nah pelaporan ini ada beberapa jenis, ada dokumennya yaitu bisa terbatas atau rahasia. Terbatas itu maksudnya bisa dibaca di luar dari tim kita, tetapi hanya untuk poin-poin tertentu yang bisa dibagikan. Atau kemudian rahasia, kalau rahasia ini kemudian akan mengarah pada penindakan begitu dan ini terbatas pada tim kita dan untuk pelaporan ke aparatur penegak hukum,” ujarnya.
Proses investigasi tersebut menghasilkan data berupa profil pasar, terkait dengan satwa, dan profil pedagang. Mulanyanya investigasi dilakukan dengan pendekatan kepada pedagang untuk mendapatkan informasi awal. Kemudian dari pendekatan tersebut didapatkan informasi yang lebih dalam dari pedagang.
Selain Britha Dian, pembicara lainnya yang turut hadir dalam kuliah umum adalah Stefanus Pramono selaku Redaktur Pelaksana Politik dan Hukum majalah Tempo. Pria yang akrab disapa Pram ikut membahas teknik investigasi yang sering dilakukan oleh majalah Tempo.
Dalam kuliah umum, Pram mengapresiasi kegiatan investigasi mengenai perdagangan satwa liar dilindungi.
“Kalau kita bicara satwa liar gitu ya, ini mungkin sedikit terkait juga dan mbak Dian ini kerjaan yang sangat penting ya. Jarang orang yang mau melakukan investigasi soal satwa, saya sendiri agak malas kalau investigasi soal satwa karena kadang-kadang isunya tidak menarik. Penting tapi tidak menarik. Itu tantangannya bagaimana kemudian media lain melakukan investigasi itu akan sangat bagus. Tentu kita beruntung ada teman teman yang mau,”ujarnya.
Kuliah umum tersebut diikuti oleh mahasiswa mata kuliah Jurnalistik Spesialisasi, Penulisan Berita Mendalam, dan Reportase program studi Jurnalistik Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran. Di akhir kuliah umum tersebut Dian mengajak mahasiswa untuk bergabung menjadi relawan Garda Animalia, karena dibutuhkannya banyak orang dalam proses investigasi. (Raina Geni & David Wadana)