Wabah penyakit Covid-19 menimbulkan banyak keterbatasan dalam berbagai bidang, salah satunya jurnalistik. Dalam waktu sekejap, kerja para wartawan mengalami perubahan yang signifikan: konferensi pers virtual, kreasi pemberitaan lewat kurasi, hingga koordinasi dengan tim redaksi secara daring.
Berbagai perubahan muncul akibat keterbatasan yang timbul dari adanya wabah penyakit Covid-19. Tak jarang, beberapa media massa melakukan kerja sama untuk saling melengkapi satu dengan yang lain. Sering kali, kerja sama untuk membuat sesuatu disebut dengan kolaborasi.
Investigasi dalam jurnalistik tentu menjadi salah satu yang terdampak wabah penyakit Covid-19. Bagaimana mungkin investigasi dalam jurnalistik tetap dilakukan? Apalagi, kegiatan investigasi sangat identik dengan kegiatan lapangan untuk membongkar skandal yang berkaitan dengan kepentingan publik.
Ya, kan, sudahada protokol kesehatan dari pemerintah untuk mencegah penyebaran wabah penyakit Covid-19. Keberadaan protokol kesehatan tidak menjadi jaminan liputan investigasi dapat dilakukan sama seperti sebelum adanya wabah penyakit berbahaya ini. Oleh karenanya, liputan kolaborasi dapat menjadi salah satu upaya untuk menghasilkan berita investigasi.
Mengapa Kolaborasi?
Pemimpin Redaksi Majalah Tempo saat Perayaan Ulang Tahun Tempo, Wahyu Dhyatmika, mengatakan kolaborasi dalam liputan investigasi dapat dilakukan untuk memperluas dampak dari pemberitaan hasil investigasi. Kolaborasi tak selalu dilakukan antarmedia massa, tetapi juga dengan organisasi masyarakat terkait dengan isu yang sedang diinvestigasi.
Sebelumnya, Redaktur Eksekutif Majalah Tempo acara Tempo Media Week 2018, Setri Yasa pernah mengatakan, liputan kolaborasi dapat mengoptimalkan dampak pemberitaan, meningkatkan kepercayaan publik, risiko dapat ditanggung bersama. Dengan kolaborasi, kecurigaan media membawa suatu kepentingan dapat ditepis.
Belakangan ini, beberapa media massa sedang melakukan liputan kolaborasi terkait alat kesehatan berupa reagen (pereaksi spesimen Covid-19) dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). Liputan kolaborasi ini dilakukan Indonesia Corruption Watch (ICW) bersama sejumlah media dalam Klub Jurnalis Investigasi (KJI): Jaring, Tempo, Suara, dan Alinea.
- Alinea, mengusahakan liputan dengan cakupan tiga hal esensial untuk memberi wawasan bagi pembaca dan pengambil keputusan: fakta, data, dan kata.
- Tempo, sudah sejak lama menyajikan laporan invesitgasi yang tajam, cerdas, dan berimbang dengan standar tinggi jurnalisme.
- Suara, media yang berusaha memastikan akurasi dari setiap informasi dan melakukan kroscek dari apa yang berkembang di media sosial.
- Jaring, senantiasa mengembangkan genre jurnalisme investigasi di Indonesia, tergabung dengan Global Investigative Journalism Network (GIJN) dan IndonesiaLeaks.
Sengkarut Alat Kesehatan
Hasil liputan kolaborasi ICW dengan KJI menguak sengkarut permasalahan pengadaan alat tes Covid-19. Pasalnya, sejumlah laboratorium dan rumah sakit mengembalikan ratusan ribu alat tes dari BNPB karena reagen tidak bisa dipakai hingga tidak akurat. Padahal, pembelian reagen dengan merek Sensure telah melibatkan para ahli dan pakar.
Setiap media massa memiliki gaya atau ciri khas masing-masing dalam menyajikan hasil investigasi tersebut. Sebagian dari media tersebut memulai kisahnya dari Indonesia bagian timur, tepatnya Papua. Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (Balitbangkes) Papua, Antonius Oktavian, mengatakan negative false dari reagen Sensure tinggi.
Antonius akhirnya tak bergantung dengan pengadaan barang di Jakarta, sehingga mengadakan reagen sendiri dengan merek Fortitude asal Singapura Tak hanya Papua, Koordinator alai Besar Teknik Kesehatan Lingkungan Pengendalian Penyakit (BBPTKLPP) Jawa Timur, Joko Kasihono, juga mengeluhkan hal serupa.
Liputan kolaborasi ini mengungkap potensi kerugian negara hingga 169 miliar rupiah. Hal ini dapat menjadi perhatian masyarakat, hak-haknya belum maksimal dipenuhi oleh negara, khususnya di tengah wabah penyakit Covid-19 ini. Belum lagi, perusahaan pengadaan alat kesehatan ini memiliki hubungan kekerabatan dengan Ketua BNPB, Doni Monardo.
Menyajikan Hasil Liputan
Hasil investigasi ini tak hanya disajikan lewat berita khas, tetapi juga dengan infografik. Penggunaan infografik dapat membantu pembaca untuk memahami informasi yang diperoleh dari investigasi. Media yang menyediakan informasi secara visual antara lain Suara dan Alinea. Selain itu, hasil investigasi ini tak hanya disajikan lewat satu pemberitaan, tetapi lewat berita lain untuk menindaklanjuti hasil investigasi.
Liputan kolaborasi yang dilakukan oleh ICW dan KJI dapat menjadi inspirasi bagi peliputan dalam kerja jurnalistik, khususnya untuk isu politik, hukum, dan kriminal. Kolaborasi semacam ini menjadi bentuk kesadaran media massa untuk bergotong royong, tepatnya saling melengkapi satu dengan lainnya.
Kesadaran media massa untuk berkolaborasi dapat meningkatkan kualitas pemberitaan dengan liputan investigasi yang komprehensif. Selaras dengan tujuan jurnalistik, media massa dapat mengedukasi masyarakat secara bersama-sama. Kolaborasi ini dapat memperluas jangkauan khalayak, sesuai dengan perbedaan ciri khas antarmedia massa. (Octavianus Bima Archa Wibowo)