Seni Reportase Kolaboratif dalam Pemberitaan Reagen Bermasalah

“Dengan Kolaborasi, dampak berita bisa lebih optimal, kepercayaan publik bertambah, resiko pun bisa ditanggung bersama,” Kurang lebih begitu kutipan dari ucapan Redaktur Eksekutif Majalah Tempo Setri Yasra di depan partisipan acara Tempo Media Week yang digelar di Gedung Tempo, Jakarta, Sabtu (15/12/18).

Pada perhelatan bertajuk Kolaborasi, Masa Depan Jurnalisme tersebut, Setri menjelaskan, kolaborasi yang dimaksud adalah proses peliputan dimana wartawan dari beberapa media berbeda saling bahu-membahu dalam mencari data untuk sebuah berita.

Fenomena kolaborasi tersebut nampaknya sedang menjajaki tangga tren mekanisme peliputan di Indonesia. Sebut saja media seperti Tirto.id, dan The Jakarta Post, laporan kolaboratif keduanya berhasil memenangkan Suardi Tasrif Award 2020 dari Aliansi Jurnalis Indonesia.

Selain kedua media diatas, perusahaan pers yang tergabung dalam Klub Jurnalis Investigasi (KJI) pun tidak mau kalah. Tim yang terdiri dari Majalah Tempo, Suara.com, Jaring.id, Alinea.id dan Indonesian Coruption Watch (ICW) juga ikut menerbitkan sebuah laporan kolaboratif.

Laporan koloboratif kali ini mengangkat isu soal permasalahan potensi kerugian pengadaan alat tes Covid-19 dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). Berita tersebut telah dipajang di media masing-masing dalam rentang waktu 13-15 Maret 2021.

Media Tempo mengemas isu tersebut dengan laporan investigasi sebanyak lima episode. Kelima laporan tersebut bertajuk “Mudarat Pengadaan Darurat”, “Bermasalah di Mana-Mana”, “Dominasi Ala Budi”, “Di Awal Pandemi Kami Bingung”, dan “Tidak Usah Sok – Sokan Uji Produk”.

Tempo bisa dibilang yang paling lengkap dalam mengemas berita mengenai permasalahan alat tes covid-19 ini. Dengan mengusung konsep laporan berepisode, Tempo berhasil menyajikan sudut pandang lengkap namun tetap rapih.

Sesuai dengan panduan langkah-langkah meliput laporan investigasi dari buku karangan Dandhy Laksono, sudut pandang, atau angle berita merupakan hal yang sangat penting bagi sebuah liputan. Angle dibutuhkan agar jurnalis fokus pada satu pokok permasalahan saja,

Pada laporan investigasi Tempo, hal ini dapat dilihat dari penentuan episode laporan, dimana tiap judul memiliki fokus permasalahannya sendiri. Hal ini membuat pembaca mudah untuk memahami inti dari cerita yang ingin dibangun oleh jurnalis.

Lain dari pada Tempo, Jaring.id mengemas beritanya dengan kemasan satu artikel panjang yang mencakup semua permasalahan. Laporan dirangkai menggunakan teknik penulisan feature yang menggunakan sub-judul sebagai pengkategoriannya.

Media nirlaba yang didirikan oleh Perhimpunan Pengembangan Media Nusantara ini menerbitkan dua laporan utama terkait isu tersebut. Artikel pertama berjudul “Alkes Bermasalah Kiriman BNPB” dan “Doni Monardo: Kami Pikir Semua Merk Sama”.

Judul berita kedua memiliki keunikan tersendiri dibanding media-media lainnya. Laporan ini dikemas dengan format wawancara, dimana disajikan pertanyaan dan kutipan langsung pada tulisannya.

Wawancara dilakukan dengan Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Doni Monardo. Selain Doni, dikutip juga keterangan dari Prasista Dewi, Deputi Bidang Logistik dan Peralatan BNPB.

Bergeser ke media berikutnya, Alinea.id. Media ini tidak jauh berbeda dengan Jaring.id dalam format pengemasan beritanya. Berita disajikan menjadi sebuah artikel panjang, namun kali ini dihias dengan bumbu infografis di dalamnya.

Artikel yang disusun oleh Alinea.id, berfokus pada pertanyaan permasalahan mengapa ada campur tangan BPKB dalam pengusutan permasalahan alkes ini? Hal tersebut dapat dilihat dari paragraf pembuka tulisannya.

Jurnalis Alinea.id sengaja membuka artikel dengan mengutip pertanyaan yang dilontarkan oleh anggota DPR komisi IX, seakan-akan menuntun pembaca untuk fokus pada satu permasalahan tersebut saja.

Selain DPR, pemilihan narasumber berkisar antara Kepala BNPB, Indonesia Corruption Watch, BPKB, dan distributor. Alinea.id juga menyajikan infografis sebagai bentuk visualisasi data yang telah dihimpun dari hasil liputan kolaboratif.

Sementara itu, media Suara.com menggunakan narasi yang sama dalam pembukaan artikel seperti media Jaring.id dan Tempo. Isu yang diangkat pertama kali adalah cerita dari Kepala Balai Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Papua Antonius Oktavian.

Artikel yang dikemas dengan gaya berita khas tersebut mencatutkan keterangan hasil wawancara dari berbagai pihak terkait, seperti Kepala Rumah Sakit, Distributor, samapi Kepala BNPB.

Namun, tidak seperti media lainnya, terdapat keterangan yang berbeda mengenai pertanyaan soal Ragen yang menumpuk di Gudang Kelapa Gading oleh Doni Monardo.

Pada Suara.com Doni menjawab pertanyaan tersebut dengan pertanyaan diplomatis, “Ya seharusnya informasinya sampai ke BNPB,” ucap Doni.

Namun bila, merujuk pada media Jaring.id, Doni secara tegas mengakui adanya tumpukan reagen yang terbengkalai di Gudang BNPB Kelapa Gading dan Gudang Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo.

Bila artikel pertama dari Suara.com mengusung konsep berita khas dengan mencatutkan keterangan narasumber yang lengkap, Artikel berjudul “Distributor Blak-blakan Soal Pengadaan Reagen Covid-19 yang Bermasalah”, narasumbernya hanya fokus ke satu orang saja.

Narasumber artikel kedua dari Suara.com ini membahas permasalahan dari angle distributor, Budianto A Gani, Pemilik PT Trimitra Wisesa Abadi.

Artikel dibuka dengan tulisan naratif suasana awal wawancara tim KJI ketika bertemu dengan Budianto di Restoran Sari Ratu Kitchen, Pasar Raya Blok M.

Kepada Tim KJI, Budianto mengaku dirinya mendapat tender pengadaan alkes Covid-19 terbesar atas dasar urgensi kebutuhan reagen yang kian meningkat akibat kelangkaan di Indonesia.

Hal ini berbeda dengan tudingan yang beredar dimana dirinya dipilih berdasarkan kedekatannya dengan Kepala BNPB Doni Monardo.

Walaupun artikel yang terbit dari kelima media diatas merupakan hasil dari liputan yang dikerjakan bersama, namun corak yang menjadi keunikan tersendiri dapat tetap jelas terlihat.

Hal ini dapat terprakarsa karena sejatinya, liputan kolaboratif bukan sekadar proses reportase ‘keroyokan’, namun lebih kepada upaya jurnalis untuk saling menjaga subtansi cerita. Setidaknya seperti itu yang dikatakan Dandhy Laksono dalam bukunya ‘Jurnalistik Investigasi’.

Bila mengacu pada tulisan Irwan A Syambudi berjudul ‘Kolaborasi Jurnalistik di Masa Pandemi dan Bagaimana Saya Belajar darinya’, proses liputan kolaborasi dapat membantu jurnalis untuk mendapatkan data yang kaya secara substansi.

“Data-data yang sejatinya sulit kami akses bisa kami dapat,” tulisnya pada artikel yang diterbitkan pada (6/8/2020) di laman Remotivi.or.id.

Tak heran bila Setri Yasa, Redaktur Eksekutif Majalah Tempo melabelkan liputan kolaborasi merupakan masa depan bagi jurnalisme.

Share this: