Apakah yang terlintas dalam pikiran Anda saat mendengar kata investigasi? Sherlock Holmes, kah? Ya, seorang karakter detektif ternama asal Inggris karya Sir Arthur Conan Doyle. Holmes memiliki kemampuan analisis yang hebat untuk menyelesaikan berbagai kasus yang sulit.
Mungkin saja, Anda tak memikirkan karakter Sherlock Holmes. Anda malah memikirkan tayangan infotainment di televisi yang menguak skandal percintaan para selebritas Indonesia. Apakah tayangan infotainment tersebut adalah bagian dari investigasi, ya? Sebenarnya, apakah yang dimaksud investigasi, sih?
Seorang jurnalis majalah Tempo, Stefanus Pramono, mampu menjelaskan konsep dari investigasi, khususnya dalam konteks jurnalistik. Pram memiliki berbagai pengalaman terkait liputan investigasi: perang di Suriah, perdagangan manusia, dan Panama Papers. Pram juga meraih beberapa penghargaan: Kate Webb Prize 2013, penghargaan jurnalis di daerah Konflik, serta Adinegoro tahun 2016 dan 2019.
Menelisik Investigasi
Pram mengatakan, investigasi sendiri memiliki karakteristik, yaitu membongkar skandal dan memiliki keterkaitan dengan kepentingan publik. Oleh karena itu, investigasi merupakan liputan untuk membongkar kejahatan yang terkait dengan kepentingan publik. Investigasi jurnalistik berbeda dengan investigasi untuk kebutuhan infotainment.
“Maka, kalau nanti teman-teman melihat investigasi yang berkaitan dengan kisah percintaan selebritas, itu tidak termasuk dalam investigasi jurnalistik karena tidak mengandung kepentingan publik dan tidak mengarah pada hubungan yang semacam itu (kejahatan),” ujar Pram.
Investigasi memiliki perbedaan dengan pelaporan mendalam. Pram mengatakan, terdapat tiga aspek yang membedakan investigasi dengan pelaporan mendalam. Berbagai aspek tersebut yakni sudut pandang, tema, dan target.
“Dari segi sudut pandang, jelas sekali, investigasi menguak sebuah peristiwa, sedangkan laporan mendalam menggali atau mendalami sebuah peristiwa. Tema dalam investigasi biasanya merupakan dugaan pelanggaran atau kejahatan, berbeda dengan pelaporan mendalam yang condong pada human interest, sejarah, atau fenomena sosial,” ujar Pram.
Dalam dunia jurnalistik, terdapat banyak peristiwa yang dapat diinvestigasi oleh seorang wartawan. Tentu, peristiwa tersebut harus memiliki keterkaitan dengan kepentingan publik. Pram mengungkapkan, wartawan dapat menginvestigasi beberapa hal.
“Macam-macam, seperti korupsi di pemerintahan, contohnya KTP-el yang masih belum tuntas. Selain itu pelanggaran hak konsumen, Tempo pernah menguak penggunaan bahan-bahan kedaluwarsa di Pizza Hut. Kita juga dapat melihat fenomena sosial terkait TKI, human-trafficking hingga jalur perdagangan TKI,” ujar Pram.
Tempo dan Tiga Metode Penelusuran Jejak
“Every contact leaves a trace”
Sepenggal kalimat milik Edmund Locard itulah yang juga menjadi pedoman sekaligus kepercayaan Pram dalam lika-liku perjalanannya sebagai seorang investigator. Ia percaya bila setiap kejahatan pasti meninggalkan jejak, tak peduli seberapa besarkah intensitas kejahatan itu.
“Seberapapun rapi kita menyembunyikan kejahatan, itu pasti tetap bisa dicari tahu,” ujar Pram, yang percaya bahwa investigasi merupakan hal yang bermanfaat dalam kehidupan sehari-hari, bahkan dalam intrik perselingkuhan rumah tangga sekalipun.
Kepercayaan-kepercayaan itulah yang akhirnya membuat Pram terus maju bersama Tempo, menapaki setiap jejak demi menelaah celah-celah dalam setiap kasus yang ada. Ada tiga metode yang biasanya ditempuh oleh Tempo dalam proses penelusuran, yaitu money trail, people trail, dan juga document trail. Ketiganya tak jarang saling memiliki keterkaitan satu sama lain.
“Money trail ini motif sebagian besar kejahatan. Ini bisa berupa bentuknya rekening bank, kuitansi, atau transaksi mencurigakan, dan lain-lain, dan kadang-kadang transaksinya berlapis untuk menyamarkan donaturnya siapa,” jelas Pram terkait pelacakan melalui bukti alur dana, atau yang lebih dikenal dengan money trail.
Seiring dengan money trail, metode people trail juga kerap Tempo lakukan demi menelusuri pihak-pihak yang terlibat dalam suatu kasus, bahkan pelaku dari suatu skandal. Tak hanya individu, penelusuran yang Tempo lakukan juga tak jarang saling berjejaring. Pram juga menjelaskan, kejahatan yang sistematis biasanya didalangi oleh beberapa pelaku yang saling berjejaring.
“Nah ini kami kemudian melakukan pemetaan hubungan di antara pelaku, terus kedekatannya seperti apa, dan juga melakukan riset ya, seperti apa perusahaannya, situs perusahaannya, dan lain-lain,” ujar Pram.
Seperti yang dikatakan Pram, berkaca pada pengalamannya menginvestigasi kasus kebocoran minyak di Sumatera Selatan, bahwa penggunaan metode people trail di lapangan pada akhirnya dapat membawa ia dan temannya untuk mengetahui siapa bandar besar di balik kasus tersebut, sekaligus latar belakang serta tangan kanan dari bandar tersebut.
Sementara untuk document trail, Tempo lebih mengedepankan investigasi berbasis data untuk menguak bukti penting kasus kejahatan, memastikan keaslian dokumen, sekaligus melengkapi detail-detail laporan yang tak jarang perlu lebih dulu disatukan.
Mengupas dalam Penyamaran
“Tidak semua investigasi dilakukan dengan cara menyamar,” tukas Pram dengan penuh penekanan. Ia melanjutkan, penyamaran bahkan hanya dilakukan dalam kondisi khusus. Misal, ketika penelusuran tersebut dapat mempertaruhkan keamanan jurnalis atau perlu diliput di medan yang sulit ditembus.
Penyamaran pernah Tempo lakukan dalam liputan mereka terkait praktik aborsi ilegal. Saat itu, seorang jurnalis Tempo yang sedang mengandung harus terjun ke lapangan dan menyamar menjadi klien aborsi untuk dapat menembus klinik aborsi ilegal dan menemukan beberapa informasi mengenai praktik tersebut.
Meski termasuk ke dalam proses peliputan, Pram mengatakan, penyamaran tidak selalu dapat ditulis, sebab dalam praktik penyamaran, jurnalis hanya menjadi mata dan telinga bagi medianya.
“Contohnya, ketika kami kemudian menuliskannya, ya itu kesaksian mata dari orang yang melakukan penyamaran,” ujar Pram. Berita itu akhirnya ditulis dengan mencantumkan informasi dari jurnalis penyamar sebagai suatu kesaksian.
Dalam menyamar, Pram mengemukakan bahwa penting bagi jurnalis untuk senantiasa memperhatikan kondisi lingkungan medan peliputan serta mengukur tingkat bahaya, dan kemungkinan untuk menginvestigasi tanpa penyamaran.
Tak hanya itu, menurut Pram, menyusun skenario terkait apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan dan melakukan persiapan yang matang untuk mencegah terjadinya kebocoran juga perlu digarisbawahi dalam investigasi.
“Yang lain lagi adalah tentukan safe house atau kontak yang harus dihubungi dalam kondisi terjepit,” ujar Pram.
Dalam investigasi Tempo ke Kampung Ambon, misalnya. Pram beserta rekan Tempo-nyatelah sejak awal membidik rumah pendeta dan gereja sebagai safe house.
“Kenapa? Karena orang-orang di sana, walaupun mereka bandar narkoba, penjahat, tapi mereka tidak akan berani mengobrak-abrik gereja. Nah, itu yang kemudian kami jadikan sebagai safe house,” tutup Pram ketika menjelaskan mengenai lika-liku investigasi versi Tempo yang menuntut kecermatan dan persiapan yang matang. (Octavianus Bima Archa Wibowo & Jihan Astriningtrias)