Selasa, 26 Mei 2026 – Tim DADIK (Data & Diksi) perwakilan dari Jurnalistik Fikom Universitas Padjadjaran berhasil mengukir prestasi gemilang di ajang perlombaan bergengsi tahunan tersebut. Tim yang beranggotakan Raihana Zulfa, Faiqa Izzihni, dan Rara Adristi sukses membawa pulang Juara 3 Parade Jurnalistik 2026. Kemenangan ini terbilang luar biasa dan sarat akan perjuangan. Sebagai mahasiswa baru Angkatan 2025 yang masih minim pengalaman lapangan, mereka tetap berani bersaing dengan para senior lintas angkatan. Di balik raihan Juara 3 tersebut, ada kekuatan narasi mengenai isu mental health yang berhasil mereka suarakan ke permukaan melalui karya feature berjudul “Air Seni Berujung Rehabilitasi“.
Perjalanan Awal dari Tugas Kuliah
Tim DADIK awalnya terbentuk dari kedekatan para anggotanya yang berada di kelas yang sama. Karena sering berinteraksi di kelas, mereka membangun kebiasaan mengerjakan berbagai tugas kuliah dan kerja kelompok bersama.
“Kami bertiga memang sudah satu kelas dan sering kerja kelompok bareng untuk tugas-tugas kuliah. Jadi, sebenarnya ini berawal dari saling ajak-ajakan biasa saja untuk mencoba tantangan baru di lomba Parade Jurnalistik tahun ini,” ujar Hana membuka cerita.
Keinginan untuk menguji kemampuan diri mendorong mereka mengikuti Parade Jurnalistik 2026. Melalui Parade Jurnalistik ini, mereka ingin belajar lebih banyak mengenai teknik penulisan feature artikel yang mendalam dan tajam. Mereka memanfaatkan Parade Jurnalistik sebagai wadah untuk menerapkan teori perkuliahan ke dalam praktik jurnalistik secara langsung.
Namun, proses pembentukan tim ini sempat mengalami dinamika tersendiri. Awalnya, Faiqa dan Hana berada di kelompok yang kelebihan orang dari formasi berempat. Karena satu tim hanya boleh beranggotakan tiga orang, akhirnya dilakukan proses pengundian (spin) yang menyatukan Faiqa dan Hana dalam satu tim baru. Untuk melengkapi formasi, mereka kemudian mengajak Rara untuk bergabung membersamai perjuangan di Parade Jurnalistik ini.
Menguak Sisi Lain Gangguan Jiwa
Pada kompetisi tahun ini, Parade Jurnalistik mengangkat tema besar The Lost Youth: How Early Neglect Shapes Adolescent Identity. Tema ini menyoroti bagaimana dampak pengabaian dan pola asuh orang tua atau keluarga di masa kecil akan memengaruhi perkembangan psikologis anak ketika mereka beranjak dewasa.
Meski tema besar telah ditentukan oleh panitia, setiap tim diberikan kebebasan penuh untuk mengeksplorasi sudut pandang (angle) liputan. Di sinilah Tim DADIK mengambil langkah berani. Mereka memilih untuk mengangkat kisah nyata dari salah seorang pasien di Panti Rehabilitasi Bihara Bihari yang terletak di Cileunyi.
Potret Panti Rehabilitasi Bihara Bihari, Cinunuk, Bandung, Jawa Barat. / Sumber: https://medium.com/@thepageusee/air-seni-berujung-rehabilitasi-f4fd5a968b6f
Melalui pendekatan jurnalistik, mereka menelusuri kisah pilu seorang pasien penyintas gangguan jiwa. Di masa kecilnya, pasien tersebut kerap menerima pola asuh toxic dan tindakan abusive yang ekstrem dari ayahnya. Trauma masa kecil tersebut terus membayangi kehidupannya hingga dewasa dan memicu berbagai persoalan psikologis, mulai dari gejala skizofrenia, perilaku antisosial, hingga kesulitan berbaur dengan lingkungan sekitar.
Tim DADIK juga menyoroti keterkaitan antara tindakan kekerasan verbal dan pelecehan seksual yang meninggalkan luka mendalam dalam kehidupan korban. Mereka sengaja mengangkat isu tersebut karena sebagian masyarakat masih menganggap kekerasan dalam rumah tangga sebagai cara yang wajar untuk mendisiplinkan anak. Melalui narasi ini, Tim DADIK bersama salah satu perawat panti, Bu Dewi, bertujuan untuk membuka pikiran masyarakat bahwa perilaku menyimpang anak di masa dewasa bisa jadi akar masalahnya berasal dari pengalaman buruk yang mereka alami di masa kecil.
Strategi Unik di Babak Pertama
Salah satu poin krusial yang membuat karya Tim DADIK berbeda dan unggul dari peserta lain terletak pada strategi penulisan artikel mereka. Mereka sengaja menggunakan teknik hook yang tidak biasa dan berani demi memancing rasa penasaran juri dan pembaca sejak baris pertama.
“Di artikel awal, kami membuka tulisan dengan pertanyaan langsung kepada audiens: ‘Apakah kalian pernah kencing sembarangan?’. Dari pertanyaan unik itu, kami baru melakukan bridging masuk ke isu utama, bahwa sang pasien di panti justru pernah dikencingi oleh ayahnya sendiri akibat pola asuh yang abusive di masa kecil,” jelas Hana membagikan rahasia dapur timnya.
Selain kedekatan isu psikologis yang diangkat, karya ini juga memiliki proximity yang kuat. Tim DADIK menentukan panti rehabilitasi dan narasumber dari wilayah Bandung dan sekitarnya agar isu yang mereka angkat terasa lebih dekat dengan pembaca. Kedekatan ini memberikan dampak emosional yang lebih nyata bagi pembaca lokal.
Drama Ganti Isu Menjelang Batas Waktu
Tim DADIK sendiri menghadapi berbagai tantangan dalam perjalanan menuju panggung juara. Sebagai mahasiswa semester awal, mereka sempat kewalahan karena mengingat mata kuliah yang mereka pelajari baru dasarnya saja. Otomatis, mereka harus belajar secara otodidak untuk menyesuaikan diri dengan standar perlombaan yang ketat.
Proses riset dilakukan dengan mengombinasikan metode paper trail untuk menelusuri dokumen ilmiah atau jurnal yang sesuai dengan isu, serta melakukan liputan langsung ke lapangan. Mereka mendatangi panti rehabilitasi dan mewawancarai berbagai narasumber untuk menggali cerita serta sudut pandang yang lebih utuh mengenai isu yang mereka angkat.
Tantangan terbesar yang mereka hadapi selama lomba adalah besarnya pressure, sulitnya menyamakan waktu luang di antara anggota tim untuk liputan, hingga kendala dalam mencari narasumber yang bersedia diwawancarai. Namun, tantangan paling berkesan terjadi pada babak pertama. Awalnya, Tim DADIK berniat mengangkat isu mengenai fenomena anak-anak yang sering bermain di area pemakaman atau kuburan. Mereka bahkan sudah totalitas menyusuri area pemakaman dan mewawancarai orang tua anak-anak tersebut secara langsung di rumahnya.
Namun, nasib berkata lain ketika badai datang tepat di H-7 menjelang pengumpulan karya. Setelah melakukan wawancara dari sudut pandang orang tua anak-anak tersebut, mereka menyadari bahwa isu tersebut ternyata tidak masuk ke dalam esensi tema Parade Jurnalistik 2026 karena orang tua anak-anak di kuburan tersebut ternyata masih sangat peduli terhadap mereka.
Tanpa membuang waktu, Tim DADIK mengambil keputusan krusial untuk berganti isu total dalam waktu seminggu. Mereka langsung berbelok arah ke panti rehabilitasi untuk melakukan riset data ulang, wawancara perawat, hingga memproduksi video dokumenter di babak kedua, mulai dari proses syuting, rekaman, hingga editing, dengan tenggat waktu final yang kurang dari satu minggu.
Tim DADIK Raih Juara 3 Parade Jurnalistik
Untuk mengatasi berbagai kendala teknis tersebut, Faiqa, Rara, dan Hana menerapkan sistem pembagian tugas yang fleksibel sesuai kemampuan masing-masing anggota. Saat tim menemui bagian artikel yang sulit, Hana mengambil alih proses penulisannya. Sebaliknya, jika ada kendala dalam hal teknis video, Faiqa akan mengambil alih proses penyuntingan video tersebut. Tak lupa, Rara membantu riset data yang berkaitan dengan artikel.
Meski sempat merasa minder saat melihat karya para finalis dari angkatan atas, Tim DADIK akhirnya meraih Juara 3 Parade Jurnalistik 2026 dan mengubah keraguan mereka menjadi kebanggaan pada malam final. Momen pengumuman ini menjadi sangat berkesan bagi mereka, terlebih karena mereka bisa bertemu dengan finalis lain yang ternyata memiliki frekuensi pemikiran yang sama, sehingga memperluas jaringan dan pengalaman berharga mereka.
Bagi mereka, kompetisi ini memberikan banyak pelajaran berharga di luar ruang kelas. Mereka belajar cara berkomunikasi langsung dengan masyarakat sensitif, memahami dinamika isu mental health, hingga mengetahui realitas lapangan bahwa banyak panti rehabilitasi mental mandiri yang berjuang sendiri merawat pasien tanpa adanya bantuan materi dari pemerintah.
Bagi Hana, Faiqa, dan Rara, kemenangan ini bukanlah akhir, melainkan sebuah gerbang pembuka. “Arti kemenangan ini buat kami bukan sekadar piala atau selebrasi belaka. Ini adalah langkah awal bagi kami untuk terus berproses mencapai hal besar lainnya di masa depan,” pungkas Hana penuh optimisme.
Tips Kompetisi dari Tim DADIK sebagai Juara 3 Parade Jurnalistik 2026
Tim DADIK turut berbagi tips bagi mahasiswa lain yang ingin mengikuti kompetisi serupa tahun depan. Faiqa menegaskan agar para mahasiswa tidak mudah menyerah dalam menghadapi situasi sesulit apa pun. Hal itu penting karena hasil akhir tidak ada yang tahu. Hana juga menambahkan agar tidak perlu ragu atau minder saat mendaftar perlombaan. Jangan takut meskipun masih berstatus sebagai mahasiswa baru di semester awal. Kamu tidak perlu mundur hanya karena belum memiliki pengalaman menulis artikel ilmiah. Hal yang paling penting adalah keberanian untuk mencoba dan belajar, baik saat melakukan liputan maupun saat berinteraksi dengan orang-orang baru.
Keberhasilan Tim DADIK menjadi Juara 3 di Parade Jurnalistik 2026 menunjukkan sebuah bukti nyata. Dengan keberanian, kelenturan mental, dan kerja keras, tantangan apa pun dapat diatasi. Perjalanan mereka membuktikan bahwa dedikasi mampu membawa pencapaian yang tak terduga.