Menulis bagi sebagian orang mungkin hanya sekadar hobi. Namun, bagi Humaira Farah Uzdah, Mahasiswa Jurnalistik Fikom Unpad, menulis adalah ruang untuk bercerita sekaligus tempat beristirahat dari hiruk pikuk kehidupan.
Mahasiswa Jurnalistik 2025 itu baru saja meraih pencapaian membanggakan sebagai penulis terpilih nasional dalam lomba Menulis Batch 01 Volume 03 bertema “Menutup Pintu Lama”. Detak Pustaka dan Halo Penulis menyelenggarakan kompetisi tersebut.
Prestasi tersebut menjadi pengalaman pertama Umay, sapaan akrabnya, dalam mengikuti lomba menulis tingkat nasional. Meski begitu, ia berhasil membuktikan bahwa keberanian untuk mencoba bisa membawa seseorang pada kesempatan yang tidak terduga.
Berawal dari Pengalaman Pribadi
Lomba yang diikuti Umay merupakan kompetisi menulis cerpen bertema move on yang dilaksanakan pada 15 April 2026. Dalam kompetisi itu, peserta diminta mengirimkan karya yang sesuai dengan ketentuan penyelenggara.
Umay memilih mengangkat kisah perjalanan seseorang dalam melepaskan masa lalu. Cerita tersebut menggambarkan proses dari rasa ragu, penyangkalan, hingga akhirnya benar-benar mengikhlaskan.
“Aku kebetulan merasa temanya dekat sama pengalaman pribadi, jadi lebih mudah untuk menuangkan ceritanya,” ujarnya.
Ketertarikannya pada dunia menulis ternyata sudah muncul sejak duduk di bangku kelas 6 SD. Saat itu, ia sering membaca fanfiction di platform Wattpad. Dari kebiasaan membaca tersebut, muncul keinginan untuk mulai menulis cerita sendiri.
“Aku mulai mikir, ‘apa aku coba tulis sendiri, ya?’ Dari situ aku mulai belajar menulis dan akhirnya jadi hobi sampai sekarang,” katanya.
Menulis dalam Dua Hari
Proses penulisan cerpen itu terbilang singkat. Umay mengaku mulai menulis beberapa jam setelah mendapatkan informasi lomba dari temannya. Ia langsung menuangkan ide yang ada di pikirannya selama sekitar dua jam.
Setelah draft selesai, Umay merapikan detail tulisan pada hari berikutnya. Ia memperbaiki penggunaan tanda baca dan memilih diksi yang lebih sesuai agar ceritanya terasa lebih hidup.
Meski tampak lancar, proses menulis tetap memiliki tantangan tersendiri. Salah satu hambatan terbesar yang sering ia alami adalah writer’s block.
“Tantangannya itu kadang bingung milih diksi yang pas sama sempat kehilangan ide. Kalau sudah tidur, biasanya ide yang tadi kepikiran malah hilang,” ujarnya sambil tertawa.
Selain writer’s block, Umay juga sering menghabiskan waktu hanya untuk menentukan satu kalimat yang menurutnya tepat. Namun, hal itu justru menjadi bagian yang membuat proses menulis terasa menarik baginya.
Dunia Tulisan sebagai Comfort Zone
Bagi Umay, menulis bukan hanya aktivitas produktif. Dunia tulisan menjadi tempat aman yang membuatnya nyaman ketika merasa lelah dengan keadaan sekitar.
“Dengan menulis, aku bisa bikin dunia kecil sendiri. Rasanya seperti punya tempat pelarian dari dunia nyata,” katanya.
Ia juga merasa tulisan menjadi media terbaik untuk mengekspresikan perasaan dan imajinasi tanpa batas. Karena itu, menulis selalu menjadi aktivitas yang sulit dipisahkan dari hidupnya.
Hal yang paling ia sukai dari proses menulis adalah suasana tenang saat ide-ide mulai bermunculan. Dalam momen tersebut, ia merasa hanya ada dirinya dan imajinasinya sendiri.
Tidak Menyangka Bisa Terpilih
Pencapaian Humaira Farah Uzdah sebagai Penulis Terpilih Nasional
Saat mengirimkan naskah, Umay sebenarnya tidak terlalu berharap menjadi pemenang. Ia sadar bahwa peserta lomba berasal dari berbagai daerah di Indonesia dan memiliki kemampuan menulis yang beragam.
Karena itu, pengumuman sebagai penulis terpilih nasional menjadi kejutan besar baginya. “Senang banget, karena aku benar-benar nggak nyangka bisa kepilih,” ujarnya.
Pencapaian tersebut ternyata turut memengaruhi semangatnya untuk terus berkarya. Setelah lomba itu, Umay menjadi lebih tertarik mengikuti kompetisi menulis lain, terutama cerpen dan puisi.
Dukungan keluarga serta teman-teman terdekat juga menjadi alasan yang membuatnya terus percaya diri dalam menjalani hobinya di dunia literasi.
Pesan untuk Mahasiswa Jurnalistik Unpad yang Ingin Menulis
Menurut Umay, langkah pertama untuk mulai menulis adalah berani menuangkan isi pikiran tanpa takut salah. Setelah ide terkumpul, tulisan dapat dirapikan secara perlahan hingga menjadi sebuah cerita utuh.
Ia juga menyarankan mahasiswa untuk memperbanyak membaca agar memiliki kosakata dan diksi yang lebih kaya. Bacaan tersebut tidak harus selalu berupa buku serius. Novel, e-novel, hingga fanfiction pun tetap bisa membantu mengembangkan kemampuan menulis.
Umay juga mengingatkan pentingnya beristirahat ketika mengalami writer’s block. Mencari referensi di internet atau sekadar berjalan ke luar rumah menurutnya cukup membantu mengembalikan ide yang hilang.
“Yang penting jangan takut mulai duluan,” katanya.
Penulis: Aghnia Urfiyani
Email: [email protected]